`meskipun harus berjalan sendiri, aku tak akan berhenti..`
Berkarya` dalam garis - warna - dan kata
Minggu, 08 Desember 2013
Selasa, 19 November 2013
Sajak di bawah Hujan - Bagian 3 (Terakhir)
`Karena hujan seperti melantunkan
sajak yang menyedihkan`
Masih dalam guyuran hujan, kalimat
itu terus terngiang di telingaku, terus bergema di kepalaku. Hari demi hari.
Sajak di bawah Hujan~
Dingin. Harmoni.
Hanya itu yang aku tahu. Aku benar-benar
tak bisa memahami kalimat lelaki tua itu. Ahhh,, bukan tak bisa, tapi hanya
belum bisa. Mungkin jika usiaku sepadan dengannya, aku akan bisa memahami
maksudnya.
Senin, 18 November 2013
Sajak di bawah Hujan - Bagian 2
Duduk berjam-jam. Sungguh
membosankan. Udara makin terasa dingin, mungkin karena di luar hujan mengguyur sejak
siang tadi. Hujan. Selalu saja terasa menyenangkan dan menyakitkan di waktu
yang bersamaan.
Aku beranjak dari kursi kayu,
mencari payung yang hampir dua tahun bahkan tak kusentuh. Tersimpan rapi, hanya saja sedikit berdebu tapi masih cukup baik aku rasa.
Sore ini kita akan berjalan-jalan
sebentar, seperti dulu, kataku dalam hati. Aku ambil jaket, penutup kepala, dan
sandal karet. Payung terbuka, kutengadahkan tangan menyapa hujan. Mari kita
luangkan waktu bersama.
Gemericik hujan mulai terdengar
berirama. Merdu sekali. Sore ini aku hanya ingin menikmati hujan. Berjalan di
bawah hujan. Meskipun dingin dan basah tapi rasanya menyenangkan.
Langkahku sampai pada tempat itu.
Tempat duduk seorang lelaki tua tempo hari yang lalu. Kosong. Perlahan mendekat
dan duduk di sana. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengapung. Lelaki tua
tempo hari, apa yang Ia tunggu di tempat ini?
“Kau sedang apa?” terperanjat
kaget aku menoleh. Dari balik bahu, kudapati sosok yang tengah mengusik
kepalaku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”,
tanya lelaki tua itu.
“Menikmati hujan” jawabku
singkat.
“Apa kau tidak keberatan berbagi
tempat duduk denganku?”,
“Tentu tidak. Silahkan”. Hening tanpa
kata, hanya gemericik hujan.
Wajah lelaki tua itupun
menggantungkan kedukaan yang sama dengan yang kulihat tempo lalu. Memberanikan diri,
aku memulai percakapan.
“Apa yang Anda lakukan di sini?
Anda tidak sedang mengkasihani saya karena duduk seorang diri dan bermaksud
menemani saya kan?”, mencoba mencairkan suasana.
Lelaki tua itu tersenyum, tulus,
memperlihatkan giginya yang tak lagi utuh.
“Sama sepertimu, aku ingin
menikmati hujan di sini, di tempat ini”.
“Anda pasti sangat menyukai hujan”.
“Aku menyukai hujan, terlebih
hujan yang turun di sore hari”.
“Kenapa? Kenapa kalau Anda
menyukainya tetapi saya tidak melihat suka cita di wajah Anda?”, pertanyaan
bodoh dan tidak sopan! Apa yang aku tanyakan. Bagaimana kalau aku menyinggung
perasaannya.
“Karena hujan seperti melantunkan
sajak yang menyedihkan” jawabnya singkat.
Aku tak lagi berani bertanya. Aku
hanya mencoba mencerna kalimat-kalimat yang Ia lontarkan. Kembali kepada
keheningan tanpa kata.
Sabtu, 16 November 2013
Sajak di bawah Hujan - Bagian 1
Langit benar-benar gelap, bukan
karena hari sudah malam tapi karena rasanya akan segera turun hujan.
Kilatan-kilatan cahayapun tak kalah mengabarkan pertanda akan datangnya
bulir-bulir air dari langit. Aku harus segera sampai rumah kalau tak mau basah
kuyup oleh hujan. Menyeberangi jalanan yang tak biasa aku lewati. Bermaksud
memotong jalan agar sampai rumah lebih cepat daripada biasanya. Ada yang
menarik. Di ujung jalan sebuah persimpangan. Aku melihat sesuatu yang menarik.
Seorang lelaki tua yang tengah
duduk seorang diri dan hanya ditemani sepeda tua di sampingnya. Ketuaan yang
nampak dari guratan-guratan halus di wajah dan warna putih yang memudar di
kepala dengan sepeda yang tak kalah terlihat tua karena warna kecokelatan yang
tak bisa lagi disembunyikan.
Aku memperhatikannya sejenak.
Mencoba mencuri-curi lihat apa gerangan duka yang menggelayut di wajah renta
itu. Apa pula yang tengah Ia lakukan di sana, duduk seorang diri di bawah
langit yang menggertakkan kewaspadaan akan datangnya hujan. Apa yang Ia tunggu
dengan berpayung pepohonan dalam gerimis yang mulai berbaris.
Ah, apa gunanya aku tahu. Guntur
dan petir yang sejak tadi bersahutan seperti menyuruhku untuk segera pulang.
Aku abaikan lelaki tua itu dan kupercepat kayuhan sepedaku.
Menyeruput secangkir cokelat
panas. Menyembunyikan tangan dan kaki di bawah selimut tebal. Mencoba mengusir
dingin di sekujur tubuh. Hujan. Selalu saja terasa menyenangkan dan menyakitkan
di waktu yang bersamaan. Menikmati hujan dan tangankupun menari di atas kertas
kosong. Sosok lelaki tua di ujung jalan tadi samar terlihat di kertas putihku.
Lelaki tua yang tadi. Lelaki tua yang membuatku bertanya-tanya tadi. Samar
memang namun duka di wajah itu nampak sangat jelas.
Aku letakkan pensil dan kertasku.
Aku ingin tidur. Sangat melelahkan rasanya hari ini..
Kamis, 14 November 2013
Langit masih Biru
Aku masih ingat senja itu berwarna jingga terang. Aku masih ingat aku mengudarakan senyuman pada langit senja itu. Lalu perlahan langit berubah memerah lalu gelap sempurna. Aku berharap ada bulan atau minimal bintang. Namun sungguh sempurna sekali gelapnya. Tak biasanya kegelapan itu membuatku gentar. Hanya saja gelap waktu itu sungguh terasa dingin dan mengerikan! Dinginnya menyentuh tubuhku dengan sangat menakutkan. Aku pun menggigil menembus gelap waktu itu. Angin menampar wajahku dan menjebakku dalam tusukan-tusukan halusnya. Keberanianku gentar olah kengerian. Aku memeluk tubuhku erat sampai aku rasakan tulang-tulangku bergemeletuk. Mataku berair karena kengerian yang tak bisa aku bayangkan. Kengerian yang menyusup lewat ketakutan.
Mengapa? ketakutan itu harus datang padaku?
Masih, masih tersisa keberanian dalam dada. Masih ada, di sana. Keberanian yang membawa kakiku melangkah pergi, menjauh dari kegelapan malam itu.
Lalu aku melihat cahaya. Cahaya yang nampak hangat dari kejauhan.
Aku, dengan sisa keberanian memberanikan diri mendekat. Aku mendekat dan menyentuhnya. Aku tak berkata apa-apa. Sedikitpun aku tak bersuara. Cahaya itu, balik menyentukku dan memelukku. Membungkus tubuhku yang menggigil dalam kehangatan. Menghapus air mataku yang berurai dan membenamkanku dalam pelukan.
Seketika itu aku merasa aman. Aku merasa nyaman.
Mataku menyipit. Pagi. Malam sudah berganti. Terang. Bercahaya.
Aku menatap keluar dan mendapati hamparan berwarna mendamaikan.
Langit berwarna biru sempurna tanpa sapuan-sapuan awan. Indah... Damai...
Rongga dadaku perlahan dipenuhi kedamaian.
Karena hari itu, karena waktu itu, aku akan selalu ingat bahwa Langit masih berwarna Biru.
Selalu..
Mengapa? ketakutan itu harus datang padaku?
Masih, masih tersisa keberanian dalam dada. Masih ada, di sana. Keberanian yang membawa kakiku melangkah pergi, menjauh dari kegelapan malam itu.
Lalu aku melihat cahaya. Cahaya yang nampak hangat dari kejauhan.
Aku, dengan sisa keberanian memberanikan diri mendekat. Aku mendekat dan menyentuhnya. Aku tak berkata apa-apa. Sedikitpun aku tak bersuara. Cahaya itu, balik menyentukku dan memelukku. Membungkus tubuhku yang menggigil dalam kehangatan. Menghapus air mataku yang berurai dan membenamkanku dalam pelukan.
Seketika itu aku merasa aman. Aku merasa nyaman.
Mataku menyipit. Pagi. Malam sudah berganti. Terang. Bercahaya.
Aku menatap keluar dan mendapati hamparan berwarna mendamaikan.
Langit berwarna biru sempurna tanpa sapuan-sapuan awan. Indah... Damai...
Rongga dadaku perlahan dipenuhi kedamaian.
Karena hari itu, karena waktu itu, aku akan selalu ingat bahwa Langit masih berwarna Biru.
Selalu..
Rabu, 13 November 2013
Suara sebuah Biola
Tentang sebuah suara merdu yang membuatku jatuh cinta. Namun lupa kapan pertama kali aku mendengarnya. Dahulu kala. Bertahun-tahun lamanya. Terlalu lama sebelum aku tahu itu adalah suara dari sebuah biola. Lama, tapi aku tahu sejak itu aku sudah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada suara itu, suara sebuah biola.
Dulu, aku bertanya-tanya di mana aku bisa mendengarnya? lebih sering mendengarnya. Lembut dan menggoda. Suara apa ini sebenarnya?
Waktu akan menjawab semuanya. Dan benar adanya.
Aku kini tahu itu adalah suara sebuah biola. Suara nan menawan yang dihasilkan oleh rupa yang tak kalah menawannya. Aku pun tahu di mana aku bisa mendengarnya. Aku bahkan bisa melihat sangat menawannya ketika biola itu dimainkan. Menari dalam alunan-alunan yang tak terlihat. Indah. Alunan yang menyuarakan kata-kata yang tak terbaca, meneriakkan berjuta rasa ke udara.
Yaa.. aku jatuh cinta pada keindahannya. Cinta yang selalu bisa aku rasakan setiap kali aku mendengar alunannya. Cinta yang sungguh nyata.
Yaa.. Aku jatuh cinta pada suara sebuah Biola..
Dulu, aku bertanya-tanya di mana aku bisa mendengarnya? lebih sering mendengarnya. Lembut dan menggoda. Suara apa ini sebenarnya?
Waktu akan menjawab semuanya. Dan benar adanya.
Aku kini tahu itu adalah suara sebuah biola. Suara nan menawan yang dihasilkan oleh rupa yang tak kalah menawannya. Aku pun tahu di mana aku bisa mendengarnya. Aku bahkan bisa melihat sangat menawannya ketika biola itu dimainkan. Menari dalam alunan-alunan yang tak terlihat. Indah. Alunan yang menyuarakan kata-kata yang tak terbaca, meneriakkan berjuta rasa ke udara.
Yaa.. aku jatuh cinta pada keindahannya. Cinta yang selalu bisa aku rasakan setiap kali aku mendengar alunannya. Cinta yang sungguh nyata.
Yaa.. Aku jatuh cinta pada suara sebuah Biola..
Seorang Kawan dari Tuhan
Apa kabarnya dia di sana?
Apakah sebaik kabarku di sini?
Rindu sekali meluangkan waktu sejenak berbagi cerita dengannya.
Sangat rindu…
Langganan:
Postingan (Atom)



