Berkarya` dalam garis - warna - dan kata

Selasa, 19 November 2013

Sajak di bawah Hujan - Bagian 3 (Terakhir)



`Karena hujan seperti melantunkan sajak yang menyedihkan`
Masih dalam guyuran hujan, kalimat itu terus terngiang di telingaku, terus bergema di kepalaku. Hari demi hari.

Sajak di bawah Hujan~

Dingin. Harmoni.

Hanya itu yang aku tahu. Aku benar-benar tak bisa memahami kalimat lelaki tua itu. Ahhh,, bukan tak bisa, tapi hanya belum bisa. Mungkin jika usiaku sepadan dengannya, aku akan bisa memahami maksudnya.

Senin, 18 November 2013

Sajak di bawah Hujan - Bagian 2



Duduk berjam-jam. Sungguh membosankan. Udara makin terasa dingin, mungkin karena di luar hujan mengguyur sejak siang tadi. Hujan. Selalu saja terasa menyenangkan dan menyakitkan di waktu yang bersamaan.
Aku beranjak dari kursi kayu, mencari payung yang hampir dua tahun bahkan tak kusentuh. Tersimpan rapi, hanya saja sedikit berdebu tapi masih cukup baik aku rasa.
Sore ini kita akan berjalan-jalan sebentar, seperti dulu, kataku dalam hati. Aku ambil jaket, penutup kepala, dan sandal karet. Payung terbuka, kutengadahkan tangan menyapa hujan. Mari kita luangkan waktu bersama.
Gemericik hujan mulai terdengar berirama. Merdu sekali. Sore ini aku hanya ingin menikmati hujan. Berjalan di bawah hujan. Meskipun dingin dan basah tapi rasanya menyenangkan.
Langkahku sampai pada tempat itu. Tempat duduk seorang lelaki tua tempo hari yang lalu. Kosong. Perlahan mendekat dan duduk di sana. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengapung. Lelaki tua tempo hari, apa yang Ia tunggu di tempat ini?
“Kau sedang apa?” terperanjat kaget aku menoleh. Dari balik bahu, kudapati sosok yang tengah mengusik kepalaku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”, tanya lelaki tua itu.
“Menikmati hujan” jawabku singkat.
“Apa kau tidak keberatan berbagi tempat duduk denganku?”,
“Tentu tidak. Silahkan”. Hening tanpa kata, hanya gemericik hujan.
Wajah lelaki tua itupun menggantungkan kedukaan yang sama dengan yang kulihat tempo lalu. Memberanikan diri, aku memulai percakapan.
“Apa yang Anda lakukan di sini? Anda tidak sedang mengkasihani saya karena duduk seorang diri dan bermaksud menemani saya kan?”, mencoba mencairkan suasana.
Lelaki tua itu tersenyum, tulus, memperlihatkan giginya yang tak lagi utuh.
“Sama sepertimu, aku ingin menikmati hujan di sini, di tempat ini”.
“Anda pasti sangat menyukai hujan”.
“Aku menyukai hujan, terlebih hujan yang turun di sore hari”.
“Kenapa? Kenapa kalau Anda menyukainya tetapi saya tidak melihat suka cita di wajah Anda?”, pertanyaan bodoh dan tidak sopan! Apa yang aku tanyakan. Bagaimana kalau aku menyinggung perasaannya.
“Karena hujan seperti melantunkan sajak yang menyedihkan” jawabnya singkat.
Aku tak lagi berani bertanya. Aku hanya mencoba mencerna kalimat-kalimat yang Ia lontarkan. Kembali kepada keheningan tanpa kata.

Sabtu, 16 November 2013

Sajak di bawah Hujan - Bagian 1

Langit benar-benar gelap, bukan karena hari sudah malam tapi karena rasanya akan segera turun hujan. Kilatan-kilatan cahayapun tak kalah mengabarkan pertanda akan datangnya bulir-bulir air dari langit. Aku harus segera sampai rumah kalau tak mau basah kuyup oleh hujan. Menyeberangi jalanan yang tak biasa aku lewati. Bermaksud memotong jalan agar sampai rumah lebih cepat daripada biasanya. Ada yang menarik. Di ujung jalan sebuah persimpangan. Aku melihat sesuatu yang menarik.
Seorang lelaki tua yang tengah duduk seorang diri dan hanya ditemani sepeda tua di sampingnya. Ketuaan yang nampak dari guratan-guratan halus di wajah dan warna putih yang memudar di kepala dengan sepeda yang tak kalah terlihat tua karena warna kecokelatan yang tak bisa lagi disembunyikan.
Aku memperhatikannya sejenak. Mencoba mencuri-curi lihat apa gerangan duka yang menggelayut di wajah renta itu. Apa pula yang tengah Ia lakukan di sana, duduk seorang diri di bawah langit yang menggertakkan kewaspadaan akan datangnya hujan. Apa yang Ia tunggu dengan berpayung pepohonan dalam gerimis yang mulai berbaris.
Ah, apa gunanya aku tahu. Guntur dan petir yang sejak tadi bersahutan seperti menyuruhku untuk segera pulang. Aku abaikan lelaki tua itu dan kupercepat kayuhan sepedaku.
Menyeruput secangkir cokelat panas. Menyembunyikan tangan dan kaki di bawah selimut tebal. Mencoba mengusir dingin di sekujur tubuh. Hujan. Selalu saja terasa menyenangkan dan menyakitkan di waktu yang bersamaan. Menikmati hujan dan tangankupun menari di atas kertas kosong. Sosok lelaki tua di ujung jalan tadi samar terlihat di kertas putihku. Lelaki tua yang tadi. Lelaki tua yang membuatku bertanya-tanya tadi. Samar memang namun duka di wajah itu nampak sangat jelas.
Aku letakkan pensil dan kertasku. Aku ingin tidur. Sangat melelahkan rasanya hari ini..

`Aku yang meniup dan membiarkanmu terbang ke mana angin akan membawamu`

Kamis, 14 November 2013

Langit masih Biru

Aku masih ingat senja itu berwarna jingga terang. Aku masih ingat aku mengudarakan senyuman pada langit senja itu. Lalu perlahan langit berubah memerah lalu gelap sempurna. Aku berharap ada bulan atau minimal bintang. Namun sungguh sempurna sekali gelapnya. Tak biasanya kegelapan itu membuatku gentar. Hanya saja gelap waktu itu sungguh terasa dingin dan mengerikan! Dinginnya menyentuh tubuhku dengan sangat menakutkan. Aku pun menggigil menembus gelap waktu itu. Angin menampar wajahku dan menjebakku dalam tusukan-tusukan halusnya. Keberanianku gentar olah kengerian. Aku memeluk tubuhku erat sampai aku rasakan tulang-tulangku bergemeletuk. Mataku berair karena kengerian yang tak bisa aku bayangkan. Kengerian yang menyusup lewat ketakutan.
Mengapa? ketakutan itu harus datang padaku?
Masih, masih tersisa keberanian dalam dada. Masih ada, di sana. Keberanian yang membawa kakiku melangkah pergi, menjauh dari kegelapan malam itu.
Lalu aku melihat cahaya. Cahaya yang nampak hangat dari kejauhan.
Aku, dengan sisa keberanian memberanikan diri mendekat. Aku mendekat dan menyentuhnya. Aku tak berkata apa-apa. Sedikitpun aku tak bersuara. Cahaya itu, balik menyentukku dan memelukku. Membungkus tubuhku yang menggigil dalam kehangatan. Menghapus air mataku yang berurai dan membenamkanku dalam pelukan.
Seketika itu aku merasa aman. Aku merasa nyaman.

Mataku menyipit. Pagi. Malam sudah berganti. Terang. Bercahaya.
Aku menatap keluar dan mendapati hamparan berwarna mendamaikan.
Langit berwarna biru sempurna tanpa sapuan-sapuan awan. Indah... Damai...
Rongga dadaku perlahan dipenuhi kedamaian.

Karena hari itu, karena waktu itu, aku akan selalu ingat bahwa Langit masih berwarna Biru.
Selalu..

Rabu, 13 November 2013

Suara sebuah Biola

Tentang sebuah suara merdu yang membuatku jatuh cinta. Namun lupa kapan pertama kali aku mendengarnya. Dahulu kala. Bertahun-tahun lamanya. Terlalu lama sebelum aku tahu itu adalah suara dari sebuah biola. Lama, tapi aku tahu sejak itu aku sudah jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada suara itu, suara sebuah biola.
Dulu, aku bertanya-tanya di mana aku bisa mendengarnya? lebih sering mendengarnya. Lembut dan menggoda. Suara apa ini sebenarnya?
Waktu akan menjawab semuanya. Dan benar adanya.
Aku kini tahu itu adalah suara sebuah biola. Suara nan menawan yang dihasilkan oleh rupa yang tak kalah menawannya. Aku pun tahu di mana aku bisa mendengarnya. Aku bahkan bisa melihat sangat menawannya ketika biola itu dimainkan. Menari dalam alunan-alunan yang tak terlihat. Indah. Alunan yang menyuarakan kata-kata yang tak terbaca, meneriakkan berjuta rasa ke udara.
Yaa.. aku jatuh cinta pada keindahannya. Cinta yang selalu bisa aku rasakan setiap kali aku mendengar alunannya. Cinta yang sungguh nyata.
Yaa.. Aku jatuh cinta pada suara sebuah Biola..

Seorang Kawan dari Tuhan

Apa kabarnya dia di sana?
Apakah sebaik kabarku di sini?
Rindu sekali meluangkan waktu sejenak berbagi cerita dengannya.
Sangat rindu…