Berkarya` dalam garis - warna - dan kata

Kamis, 14 November 2013

Langit masih Biru

Aku masih ingat senja itu berwarna jingga terang. Aku masih ingat aku mengudarakan senyuman pada langit senja itu. Lalu perlahan langit berubah memerah lalu gelap sempurna. Aku berharap ada bulan atau minimal bintang. Namun sungguh sempurna sekali gelapnya. Tak biasanya kegelapan itu membuatku gentar. Hanya saja gelap waktu itu sungguh terasa dingin dan mengerikan! Dinginnya menyentuh tubuhku dengan sangat menakutkan. Aku pun menggigil menembus gelap waktu itu. Angin menampar wajahku dan menjebakku dalam tusukan-tusukan halusnya. Keberanianku gentar olah kengerian. Aku memeluk tubuhku erat sampai aku rasakan tulang-tulangku bergemeletuk. Mataku berair karena kengerian yang tak bisa aku bayangkan. Kengerian yang menyusup lewat ketakutan.
Mengapa? ketakutan itu harus datang padaku?
Masih, masih tersisa keberanian dalam dada. Masih ada, di sana. Keberanian yang membawa kakiku melangkah pergi, menjauh dari kegelapan malam itu.
Lalu aku melihat cahaya. Cahaya yang nampak hangat dari kejauhan.
Aku, dengan sisa keberanian memberanikan diri mendekat. Aku mendekat dan menyentuhnya. Aku tak berkata apa-apa. Sedikitpun aku tak bersuara. Cahaya itu, balik menyentukku dan memelukku. Membungkus tubuhku yang menggigil dalam kehangatan. Menghapus air mataku yang berurai dan membenamkanku dalam pelukan.
Seketika itu aku merasa aman. Aku merasa nyaman.

Mataku menyipit. Pagi. Malam sudah berganti. Terang. Bercahaya.
Aku menatap keluar dan mendapati hamparan berwarna mendamaikan.
Langit berwarna biru sempurna tanpa sapuan-sapuan awan. Indah... Damai...
Rongga dadaku perlahan dipenuhi kedamaian.

Karena hari itu, karena waktu itu, aku akan selalu ingat bahwa Langit masih berwarna Biru.
Selalu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar