Berkarya` dalam garis - warna - dan kata

Senin, 18 November 2013

Sajak di bawah Hujan - Bagian 2



Duduk berjam-jam. Sungguh membosankan. Udara makin terasa dingin, mungkin karena di luar hujan mengguyur sejak siang tadi. Hujan. Selalu saja terasa menyenangkan dan menyakitkan di waktu yang bersamaan.
Aku beranjak dari kursi kayu, mencari payung yang hampir dua tahun bahkan tak kusentuh. Tersimpan rapi, hanya saja sedikit berdebu tapi masih cukup baik aku rasa.
Sore ini kita akan berjalan-jalan sebentar, seperti dulu, kataku dalam hati. Aku ambil jaket, penutup kepala, dan sandal karet. Payung terbuka, kutengadahkan tangan menyapa hujan. Mari kita luangkan waktu bersama.
Gemericik hujan mulai terdengar berirama. Merdu sekali. Sore ini aku hanya ingin menikmati hujan. Berjalan di bawah hujan. Meskipun dingin dan basah tapi rasanya menyenangkan.
Langkahku sampai pada tempat itu. Tempat duduk seorang lelaki tua tempo hari yang lalu. Kosong. Perlahan mendekat dan duduk di sana. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengapung. Lelaki tua tempo hari, apa yang Ia tunggu di tempat ini?
“Kau sedang apa?” terperanjat kaget aku menoleh. Dari balik bahu, kudapati sosok yang tengah mengusik kepalaku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”, tanya lelaki tua itu.
“Menikmati hujan” jawabku singkat.
“Apa kau tidak keberatan berbagi tempat duduk denganku?”,
“Tentu tidak. Silahkan”. Hening tanpa kata, hanya gemericik hujan.
Wajah lelaki tua itupun menggantungkan kedukaan yang sama dengan yang kulihat tempo lalu. Memberanikan diri, aku memulai percakapan.
“Apa yang Anda lakukan di sini? Anda tidak sedang mengkasihani saya karena duduk seorang diri dan bermaksud menemani saya kan?”, mencoba mencairkan suasana.
Lelaki tua itu tersenyum, tulus, memperlihatkan giginya yang tak lagi utuh.
“Sama sepertimu, aku ingin menikmati hujan di sini, di tempat ini”.
“Anda pasti sangat menyukai hujan”.
“Aku menyukai hujan, terlebih hujan yang turun di sore hari”.
“Kenapa? Kenapa kalau Anda menyukainya tetapi saya tidak melihat suka cita di wajah Anda?”, pertanyaan bodoh dan tidak sopan! Apa yang aku tanyakan. Bagaimana kalau aku menyinggung perasaannya.
“Karena hujan seperti melantunkan sajak yang menyedihkan” jawabnya singkat.
Aku tak lagi berani bertanya. Aku hanya mencoba mencerna kalimat-kalimat yang Ia lontarkan. Kembali kepada keheningan tanpa kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar