Duduk berjam-jam. Sungguh
membosankan. Udara makin terasa dingin, mungkin karena di luar hujan mengguyur sejak
siang tadi. Hujan. Selalu saja terasa menyenangkan dan menyakitkan di waktu
yang bersamaan.
Aku beranjak dari kursi kayu,
mencari payung yang hampir dua tahun bahkan tak kusentuh. Tersimpan rapi, hanya saja sedikit berdebu tapi masih cukup baik aku rasa.
Sore ini kita akan berjalan-jalan
sebentar, seperti dulu, kataku dalam hati. Aku ambil jaket, penutup kepala, dan
sandal karet. Payung terbuka, kutengadahkan tangan menyapa hujan. Mari kita
luangkan waktu bersama.
Gemericik hujan mulai terdengar
berirama. Merdu sekali. Sore ini aku hanya ingin menikmati hujan. Berjalan di
bawah hujan. Meskipun dingin dan basah tapi rasanya menyenangkan.
Langkahku sampai pada tempat itu.
Tempat duduk seorang lelaki tua tempo hari yang lalu. Kosong. Perlahan mendekat
dan duduk di sana. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengapung. Lelaki tua
tempo hari, apa yang Ia tunggu di tempat ini?
“Kau sedang apa?” terperanjat
kaget aku menoleh. Dari balik bahu, kudapati sosok yang tengah mengusik
kepalaku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”,
tanya lelaki tua itu.
“Menikmati hujan” jawabku
singkat.
“Apa kau tidak keberatan berbagi
tempat duduk denganku?”,
“Tentu tidak. Silahkan”. Hening tanpa
kata, hanya gemericik hujan.
Wajah lelaki tua itupun
menggantungkan kedukaan yang sama dengan yang kulihat tempo lalu. Memberanikan diri,
aku memulai percakapan.
“Apa yang Anda lakukan di sini?
Anda tidak sedang mengkasihani saya karena duduk seorang diri dan bermaksud
menemani saya kan?”, mencoba mencairkan suasana.
Lelaki tua itu tersenyum, tulus,
memperlihatkan giginya yang tak lagi utuh.
“Sama sepertimu, aku ingin
menikmati hujan di sini, di tempat ini”.
“Anda pasti sangat menyukai hujan”.
“Aku menyukai hujan, terlebih
hujan yang turun di sore hari”.
“Kenapa? Kenapa kalau Anda
menyukainya tetapi saya tidak melihat suka cita di wajah Anda?”, pertanyaan
bodoh dan tidak sopan! Apa yang aku tanyakan. Bagaimana kalau aku menyinggung
perasaannya.
“Karena hujan seperti melantunkan
sajak yang menyedihkan” jawabnya singkat.
Aku tak lagi berani bertanya. Aku
hanya mencoba mencerna kalimat-kalimat yang Ia lontarkan. Kembali kepada
keheningan tanpa kata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar