Seorang lelaki tua yang tengah
duduk seorang diri dan hanya ditemani sepeda tua di sampingnya. Ketuaan yang
nampak dari guratan-guratan halus di wajah dan warna putih yang memudar di
kepala dengan sepeda yang tak kalah terlihat tua karena warna kecokelatan yang
tak bisa lagi disembunyikan.
Aku memperhatikannya sejenak.
Mencoba mencuri-curi lihat apa gerangan duka yang menggelayut di wajah renta
itu. Apa pula yang tengah Ia lakukan di sana, duduk seorang diri di bawah
langit yang menggertakkan kewaspadaan akan datangnya hujan. Apa yang Ia tunggu
dengan berpayung pepohonan dalam gerimis yang mulai berbaris.
Ah, apa gunanya aku tahu. Guntur
dan petir yang sejak tadi bersahutan seperti menyuruhku untuk segera pulang.
Aku abaikan lelaki tua itu dan kupercepat kayuhan sepedaku.
Menyeruput secangkir cokelat
panas. Menyembunyikan tangan dan kaki di bawah selimut tebal. Mencoba mengusir
dingin di sekujur tubuh. Hujan. Selalu saja terasa menyenangkan dan menyakitkan
di waktu yang bersamaan. Menikmati hujan dan tangankupun menari di atas kertas
kosong. Sosok lelaki tua di ujung jalan tadi samar terlihat di kertas putihku.
Lelaki tua yang tadi. Lelaki tua yang membuatku bertanya-tanya tadi. Samar
memang namun duka di wajah itu nampak sangat jelas.
Aku letakkan pensil dan kertasku.
Aku ingin tidur. Sangat melelahkan rasanya hari ini..
Waah, mbak Liana... Udah puitis aja nih.
BalasHapusAku beberapa kali lihat gambar-gambar mbak nongol di beranda fb.. Baguss... :)
hehheheee...... udah dari dulu puitisnya hlooo... :D
BalasHapusmakasih buat pujiannya.... semoga kedepan bisa lebih-lebih-lebih baik n bagus lagi.. :)